Selasa, 13 September 2016




PENGERTIAN LINGUISTIK UMUM

Pengeritan linguistik menurut kamus Pringgodigdo dan Hasan Shaddily (1977: 633-634) menjelaskan bahwa linguistik adalah penelaahan bahasa secara ilmu pengetahuan. Tujuan utama ialah mempelajari suatu bahasa secara deskriptif. Kridalaksana (1984: 116) menyatakan bahwa linguistik adalah ilmu tentang bahasa; penyelidikan bahasa secara ilmiah (istilah ini pertama kali muncul tahun 1808 dalam majalah ilmiah yang disunting oleh Johann Severin Vater dan Friedrich Justin Bertueh). Jadi, dilihat dari segi kamus kata linguistik bermakna ilmu bahasa atau metode mempelajari bahasa.
Kata linguistik berasala dari bahasa Latin Lingua ‘bahasa’. Kata latin itu masih kita jumpai dalam banyak bahasa lain, misalnya Perancis (langue), (langage), Italia (lingua); atau Spanyol (lengua), dahulu pernah bahasa Inggris meminjam dari bahasa Prancis yang sekarang berbunyi language. Sesuai dengan asal Latin atau Roman itu dan sebagai linguistique dalam bahasa Perancis. Bentuk Indonesia dari istilah tersebut adalah linguistik. Kata linguistik dipakai sebagai kata benda, sedangkan kata sifatnya ‘linguistis’.
Ferdinand de Sausure, seorang sarjana Swiss, dianggap sebagai pelopor linguistik modern Course de Linguistique General (1916) sangat terkenal dan dianggap sebagai dasar linguistik modern. Oleh sebab itu, beberapa istilah yang dipakai Sausure diterima umum sebagai istilah resmi, yaitu istilah parole, langue, dan langage (Verhaar, 1982; 1).
Di bawah ini dikemukakan konsep Sausure tentang ketiga istilah tersebut.
Sudah sejak lama bahwa Sausure merasa bahwa penyelidikan ilmiah terhadap bahasa tidak harus dilakukan secara historis. Karena pengaruh pendidikan, ia tidak dapat menghindarkannya dan belum mampu mempelajari bahasa secara cermat sampai ia terpengatuh oleh Emile Durkheim (1958-1917 yang menulis Des Reglies de la Methode Socioligues 1985) sehingga ia berkesimpulan bahwa kajian mengenai bahasa dapat bersifat ilmiah tanpa harus kembali ke sejarah. Memang dalam kuliah-kuliahnya itu Sausure tidak pernah menyebut Durkheim, tetapi dari catatan-catatan lain ia memperhatikan teori sarjana sosiologi itu. Di samping itu, kita ketahui pula bahwa ketika Sausure masih mengajar di Paris teori Durkheim sedang jaya-jayanya. Jadi, ada gunanya di sini bila kita simak dari pandangan sarjana dari sosiologi itu.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa masyarakat pantas diteliti secara ilmiah karena interaksi anggota-anggotanya menimbulkan adat istiadat, tradisi, dan kaidah perilaku yang seluruhnya membentuk kesimpulan data yang mandiri. Fenomena yang disebutnya fakta sosial ini dapat diteliti secara ilmiah sebagai ilmu-ilmu fisika menyelidiki benda atau objek. Sekalipun fakta sosial itu berada di dalam dan melalui budi manusia, fenomena ini ada di luar individu dalam hal telah menungguinya pada waktu ia lahir dan ada terus setelah ia mati. Fenomena ini bukan hasil ciptaannya melainkan diterima olehnya sebagai bagian dari warisan budayanya. Lagipula fenomena itu ada di luar kehendak si individu, mengendalikan inpuls-inpuls dasar dari jiwanya dan mengatur perilaku agar sesuai dengan standar masyarakat. Atas dasar itu, Durkheim membedakan kesadaran kolektif dan kesadaran individu. Fenomena itu bukan gejala psikologis maupun biologis, namun tetap nyata karena merupakan dari objek dari budi. Kesadaran atas fenomena itu datang dari pengamatan dan kita mengetahui keberadaannya melalui pengamatan. Demikianlah inti dari teori Durkheim.
Ajaran tersebut memberikan rangsangan kepada Sausure dalam menyelidiki bahasa. Bahasa yang dianggap sebagai “benda” yang terlepas dari pemakai penuturnya karena diwariskan dari penutur lain yang mengajarkannya dan buku ciptaan individu. Bahasa adalah fakta sosial karena meliputi suatu masyarakat dan menjadi kendala bagi penuturnya. Kendala ini sangat mencolok karena bahasa tidak memberi pilihan lain kepada pemakainya kalau ia ingin mempergunakannya untuk berkomunikasi dan karena dipaksakan melalui pendidikan. Bahasa sebagaimana fakta sosial berada lepas dari perkembangan historisnya. Kalau tidak, bahasa yang ada sekarang secara kualitatif berbeda daripada yang dahulu karena memperoleh unsur-unsur baru dan kehilangan beberapa unsur lain. Bahasa sebagaimana fakta sosial dapat dipelajari secara tepat terpisah dari pelaku penuturnya.

Dikutip dari :
Siswanto PHM,Suyoto, dan Larasati .2013. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Media Perkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar